Kamis, 19 Januari 2012

Selangkah lagi !

Akhirnya.. terlewati jg semester 3 ! Alhamdulillah dengan sangat baik. Setelah bersyukur, ingin rasanya mengucapkan banyak terimakasih ke papa, mama, heni, adhi & wahyu, temen2 kerja, temen2 kuliah, tukang bubur kacang ijo yg jadi tumpuan sarapan pagi-ku jg tukang sate keliling yg tiap tengah malam mampir kedepan kos untuk mengisi perutku yg keroncongan saat buat tugas kuliah yg menumpuk itu.

Perjuangan belom berakhir, setelah ini saya harus buat thesis perdana. Judulnya Strategi Buckpassing AS terhadap peaceful rise China di Asia Timur. Karena kajian strategi, jadi akan banyak analisanya. Semoga saja lancar dan dapat dosen pembimbing yang dapat mempercepat kelulusan ini.

Sebelum mengerjakan thesis, saya mau berlibur ke Denpasar lalu backpacking ke arah timur, sumbawa, ke timur lagi Sumba, inginnya sih diteruskan ke Papua, tapi waktu cuti hanya sebentar jadi akan harus kembali ke Jakarta untuk kerja dan ngelesi lalu mulai buat thesis lagi.
Kenapa ke Indonesia bagian Timur liburannya? Untuk mencari inspirasi tentang ide dan pemikiran apa saja yang dapat ku sumbangkan bagi daerah yang katanya miskin tetapi sesungguhnya tidak miskin itu.

These all just my little steps for the better future.

Senin, 17 Oktober 2011

akhirnya, cantik tak berQiblat




Tahukan Anda berapa banyak definisi cantik didunia ini? seribu? sepuluh ribu? satu buku? satu perpus? Menurut saya, tumpukan buku - buku di perpustakaan Harvard juga Cambridge dan perpustakaan seluruh dunia mungkin tidak cukup dengan raknya bila definisi cantik itu dibukukan.. :P.
Faktanya, wanita mana sih yang tidak tidur nyenyak bila dikatakan dirinya cantik? dan Pria mana sih yang tidak mengagumi wanita cantik? Meskipun mereka juga sadar bahwa definisi cantik itu relatif. Saya tergelitik saat menyadari bahwa content cantik sering dipakai para pria saat bergombal dengan wanita pujaan hatinya. Lalu, wanita yang di-gombal-in senang dengan content ini meski dirinya sendiri juga tidak yakin benarkah content yg ditujukan kepadanya dan mereka pun meyakini itu hanyalah lip-service para pria hihi... kalo ngga digombalin gimanaaa...aaa..aa gitu.. :D Paling tidak itulah yang membuatnya tertidur nyenyak dengan masker bengkoang hantu dan 2 iris ketimun di matanya..

Saya mulai meragukan definisi cantik (fisik) yang akhirnya mengalami pergeseran dari dulu hingga sekarang. Kemudian mencoba mengkaitkannya dengan strategi politik negara - negara yang pro dengan sistem kapitalisnya. Begini jabarannya:
Dulu wanita cantik didefinisikan dengan wanita berkulit putih, mata lebar (sometimes sipit), rambut lurus, tinggi, langsing (tidak jelas, lansing atau sejenis ku-ti-lang-da-rat), kaki + leher jenjang, mirip angsa gitu kali yaa haha.. kira - kira begitu. Lalu beberapa kontes kecantikan dengan memakai slogan brain, beauty and behavior sebagai parameter cantik ala mereka. Parahnya kontes ini terjadi di hampir seantero jagad ini. Bahkan kaum waria pun tidak mau ketinggalan menggelar kontes serupa.
Menariknya, ditahun 2011 ini, definisi cantik yang sudah lama langgeng itu terpatahkan mentah - mentah. Bagaimana tidak, publik seakan dibuat tersentak saat Miss Angola terpilih sebagai ratu sejagad diajang Miss Universe 2011. Leila Lopes, seorang putri Angola yang anggun meski secara fisik tidak menggambarkan definisi cantik yang katanya universal itu diajang universal ini. Ini fakta.
Menjadi makin menarik untuk dikaji, saat kita menghubungkan definisi cantik dulu dengan produk - produk dominasi barat dengan mengimingi khasiat whitening nya, padahal bule sendiri lebih senang kulit mereka kecoklatan (tan). Seolah kebanyakan wanita mengidam - idamkan kulit mereka seperti bule. Padahal, dari negara mana produk kosmetik jenis itu diproduksi? Hahaha.. Amerika, Eropa, China dll... Kalah laris dengan kosmetik pencerah lulur tradisional nenek moyang kita.. apalagi berharap lulur go internasional :D mimpi kali yee...
Menurut saya, image cantik di konstruksi sedemikian itu (oleh pemilik modal dominan dunia) dalam rangka menggembungkan pundi - pundi kapitalis di negara barat. Tapi tentu konstruksi image cantik dibangun tidak dengan instan... bahasa jermannya " corone ora ketok lan suwe" yang artinya pake soft power demi menebarkan stigma tsb, supaya produk mereka laris manis dipasar asia sebagai target market terbesar dibanding benua lain (salah satu nasib sebagai negara berkembang).
Dengan terpilihnya Miss Angola, mungkin image cantik itu berubah, hitam itu seksi hehe.. pergeseran stigma dan paradigma ini, dari penerawangan saya akan terus bergeser, sampai pada titik semua wanita adalah cantik, berkulit hitam, sawo matang, putih, semuaaa cantikk. Tidak ada lagi diskriminasi diantara mereka. Semoga saja... Jadi jangan heran kalau suatu hari nanti akan terjadi perang produk whitening dan blackening (melalui perang generasi kelima :D) karena definisi cantik fisik akhirnya tak berkiblat kemanapun lagi. Lalu pertanyaan selanjutnya, kapitalis dunia bagian mana yang lebih diuntungkan? Ini pe-er kita malam ini sebelum tidur sambil maskeran lagi hehe..

Minggu, 07 Agustus 2011

Jalan Layang Kp Melayu - Tn Abang: Proyek Dari dan Untuk Kapitalis

Kalau tidak macet, mungkin Jakarta tidak populer lagi. Dan kalau tidak macet lagi, Jakarta hanya dikenal sebagai ibukota negara, lalu apa spesialnya? :( Hal inilah mungkin yang membuat Jakarta tetap menjaga kelestarian macetnya supaya tetap populer, dan usaha ini didukung oleh kaum kapitalis juga borjuis, hehe... kira - kira begitu.. ironis!

Karena tiap hari melintasi jalur ini, lama - lama saya berpikir, apa sih untungnya jalur ini dibangun dan apakah proyek ini berguna untuk jangka panjang sementara sisem lain tidak disinergikan untuk mengurangi kemacetan.

Menurut saya proyek jalan layang non tol ini benar - benar tidak memihak pada masyarakat kecil tetapi berpihak pada kapitalis. Pertama, proyek ini pasti sedang dan akan menelan biaya yang sangat besar, dan yang diuntungkan adalah pengembang. Tidak hanya itu, karena bersinggungan dengan pemerintahan biasanya setelah proyek selesai, lalu tercium dan meledaklah kasus penyelewangannya hahaha... Klasik.. seperti proyek - proyek sebelumnya dan yang akhir - akhir ini terdengar adalah wisma Atlet. Ups, kembali ke laptop!
Kedua, cita - cita proyek ini kan untuk mengurangi kemacetan. Lalu, saya pikir, efek macet berkurang itu hanya akan terjadi paling tidak 2 tahun pertama, tetapi setelahnya akan macet kembali. Hal ini dikarenakan jumlah kendaraan yang terjual baik mobil dan motor terus mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Sungguh tidak ada kontrol dari pemerintah untuk memfilter tingginya tingkat pembelian kendaraan, yang mungkin karena pajak yang begitu rendah. Kalau sudah begini, jalanan ini kembali macet, dan supplier kendaraan yang diuntungkan. Yang perlu diingat dan dilihat fenomenanya adalah disepanjang jalur ini sudah ada dan akan sedang dibangun apartemen - apartemen, mall - mall dan sejumlah fasilitas elit kaum kapitalis - borjuis. Luarr biasa..!

Dalam hal ini pemerintah tidak berpihak pada masyarakat level menengah kebawah. Pamarintah amnesia bahwa penggerak ekonomi di negeri ini adalah masyarakat dari golongan tersebut. Mereka lupa GDP yang dihitung tiap tahun itu banyak yang tidak terhitung dan totalnya ngawur karena sektor ekonomi di Indonesia itu terus berputar karena gerobag gorengan, tukang sayur di pasar - pasar tradisional, dan tukang gerobag keliling dengan jualan bervasiasi, hasil penjualan ikan nelayan, transaksi para petani, penjual warteg yang mendominasi hampir disemua tempat merata di Indonesia termasuk para PKL. Hak - hak mereka sebagai warga negara sungguh sudah dikesampingkan dibawah investor - investor asing pemilik apartemen, mall, perusahaan multinasional dan fasilitas kaum kapitalis lainnya. Benar - benar tidak adil.

Kecewa, Darsem yang berubah

Darsem, seorang TKW yang beruntung karena terbebas dari hukuman pancung di Riyadh, Arab Saudi karena berhasil ditebus Rp 4.6 miliar oleh pemerintah Indonesia. Keberuntungan tidak hanya sampai disitu saja karena sekembalinya ke tanah air, Darsem mendapat simpati dari masyarakat Indonesia dengan diberi santunan. Animo masyarakat untuk membantu Darsem mungkin karena sebelum kasus Darsem terjadi banyak sekali kasus - kasus TKI yang tidak terselesaikan bahkan berakhir di kayu pancungan, terlebih diwaktu yang berdekatan kasus Ruyati yang sangat tragis karena tidak dibawah kontrol dari KBRI di Arab pun terkuak. 

Hal inilah yang menjadi latarbelakang terkumpulnya dana sebesar Rp 1.2 MILIAR dari masyarakat yang peduli terhadap nasib TKI. Ternyata Darsem tidak menjaga amanah masyarakat untuk mempergunakan sumbangan tersebut sebaik - baiknya. Belakangan diketahui Darsem membelikan uang itu untuk rumah mewah, membeli perhiasan, selain itu terungkap dari tayangan di suatu stasiun TV swasta bahwa sikap Darsem terhadap tetangga dan beberapa kerabatnya berubah. Darsem sederhana berubah menjadi angkuh nan sombong. Tidak hanya sampai disitu saja, Darsem memang telah memberikan sebagian dana itu kepada ahli waris Ruyati, seorang TKW yang mendapat hukuman pancung tanpa sepengetahuan KBRI Arab, sebesar Rp 20 Juta. Yahh hanya Rp 20 Juta dari 1.2 MILIAR yang diterimanya.

Segenap pihak menyayangkan sikap Darsem ini. Seharusnya Darsem bijak dalam menggunakan dana sumbangan masyarakat itu. Juga paling tidak memberi ahli waris Ruyati sebesar Rp 300 - 500 juta! Sikap Darsem ini secara psikologis mengecewakan masyarakat luas, bahkan dapat membuat efek kapok bagi orang banyak untuk peduli terhadap TKW secara umum, padahal permasalahan TKI belum sepenuhnya tuntas dan masih akan terus menghantui karena belum adanya kematangan pemerintah RI dalam mengatasi dan mencegahnya. Darsem sederhana berubah menjadi glamor. Darsem, singkatan dari se-DAR-hanamu SEM-u !

Senin, 25 Juli 2011

Kegelisahan Menjelang Ramadhan

Harga naikk,
leher kecekikkk,
ibu - ibu paniiikkk

Begitulah fenomena dari tahun ketahun sejak pertama saya mulai melihat matahari.. bahkan makin kesini makin parah..
Menjelang ramadhan kegelisahan terjadi dimana - mana, hal ini membuat sejumlah ibu - ibu tidak khusyuk ibadah. Saya akan membagi uraian pikiran saya kedalam dua hal penting yang menurut saya menjadi indikator signifikan mengapa hal ini dapat terjadi dan bagaimana menstabilkannya.

Penyebabnya: sebagian besar diantara kita sudah kehilangan esensi dari ramadhan, puasa dan lebaran. Sepertinya bulan ramadhan dan terutama jelang lebaran adalah masa berpesta - pesta. Sepertinya sejenak kita amnesia bahwa sehari - harinya  kita sulit mencari sesuap nasi, tidak ada kemewahan disana sini. Tetapi fenomena yang terjadi saat ramadhan dan jelang lebaran adalah pesta pora, dan keinginan untuk mencapai apa yang sudah berhasil dikonstruksikan sebagian masyarakat bahwa lebaran berarti makan enak, baju baru, kalo pacar baru iya juga ngga yah.. ummm. Hal inilah yang menyebabkan lonjakan permintaan terhadap produk pangan dan menstimulasi sejumlah pihak memanfaatkannya secara berlebih dan di dalam beberapa sisi merugikan sejumlah pihak, meskipun tidak semua.

Saya tidak akan membahas hal ini dengan lebih lanjut ke hal - hal yang bersifat religi karena bukan major saya. Yang menarik bagi saya adalah kenaikan harga yang terjadi bukan karena kelangkaan produk pangan, tetapi karena faktor psikologis dari para pedagang untuk menaikkan sejumlah produk pangan menjelang puasa dan lebaran yang seolah menjadi ritual Ramadhan dari tahun ke tahun. Kalau kenaikan harga karena kelangkaan komoditas maka pemerintah menduga akan terjadi antrean dalam memperoleh produk pangan tersebut, namun, yang menjadi masalah jika kenaikan hanya karena faktor psikologis maka ini adalah ulah dari distributor.

Dalam hal ini, menurut saya, pemerintah wajib menetralkan gejolak harga pangan yang meresahkan masyarakat khususnya masyarakat lapisan bawah. Mengendalikan dan menyelesaikan masalah produksi dan distribusi serta faktor psikologis ini sudah menyangkut wibawa pemerintah dimata rakyat.

Beberapa artikel menarik mengenai strategi pemerintah dalam mengantisipasi kemungkinan terburuk selama Ramadhan, menurut saya perlu diaplikasikan dan diuji:
Pertama, Pangan yang harus tersedia diseluruh tempat, jadi dapat terakses oleh masyarakat didaerah dalam kondisi apapun. Kedua, jaminan pemerintah atas distribusi bahan pangan dan kebutuhan pokok sangatlah diperlukan. Maka, perbaikan stabilitas sarana dan prasarana perhubungan harus baik kondisinya. Ketiga, pemerintah harus dapat tetap mengontrol dan memonitor stabilitas harga, kalaupun ada kenaikan pada jelang dan saat Ramadhan tidaklah menjadi kenaikan yang kurang wajar. Yang terakhir, keempat, yang tidak kalah penting adalah diperlukan adanya jaminan atas ketersediaan energi yang diperkuat dengan sistem distribusi yang baik untuk dapat dicapai oleh masyarakat diseluruh wilayah Indonesia.

Semoga Ramadhan 1432 H kali ini semua berjalan lancar, mari kita lihat saja kinerja pemerintah tercinta kita ..

Rabu, 20 Juli 2011

Berinvestasi: Mumpung Masih Muda

Dear Bloggers,

Ide berikut ini hinggap di pikiran saya karena ada wejangan penyesalan dari orang - orang disekitar saya yang tidak memanfaatkan semaksimal mungkin potensi, daya dan upaya nya untuk berinvestasi selagi muda dulu.

Belajar dari pengalaman mereka, sebagai orang yg masih muda (cieee..) maka hal tersebut menjadi pembelajaran penting bagi saya dan akan coba saya share ke Anda.

Menurut saya, cita - cita investasi adalah mendapatkan nilai lebih (value added) di masa yang akan datang selama kurun waktu tertentu. Nah, banyak orang mengasumsikan investasi hanyalah berupa hal -hal komersil berupa barang, uang, dan sejenisnya. Meskipun begitu, hanya sedikit orang memahami investasi apa yang sebaiknya dipilihnya atau bahkan tidak tahu bagaimana brinvestasi.

Berikut ini adalah beberapa pilihan berinvestasi sebagai saran dari saya pribadi, semoga cocok bagi Anda:
1. Emas Batang
Emas batang yang saya maksud adalah emas batang 24 karat yang biasa dibeli di PT. ANTAM. Mengapa emas batang, karena sifat nilainya yang liqiud sehingga memungkin bagi pemilik modal besar, kecil , bahkan sangat kecil untuk memilikinya. Selain itu, harga emas yang selalu dan pasti melambung atau selalu diatas inflasi, dipastikan tidak akan menggerus nilai dari emas tersebut. Lalu, mengapa emas batang bukan emas perhiasan? Jawabannya, karena dengan menyimpan emas batang, saat dijual tidak ada biaya administrasi proses daur ulangnya. Menguntungkan dehhh..

2. Lanjut Studi
Nah, ini merupakan jenis investasi yang tidak kasat mata. Menurut saya, investasi berupa ilmu, cepat atau lambat,sedikit atau banyak, pasti akan membawa manfaat suatu hari nanti, baik berupa materiil maupun moril. Kalau materiil tentunya sudah jelas, sedangkan moril maksudnya, karena saya percaya pengaplikasian ilmu yang benar pasti akan membawa kebaikan bagi orang banyak. Dan Tuhan tidak akan menyia - nyiakan orang yang dapat membaikkan orang lain.

3. Tanah / Rumah / Properti
Kalau yang ini, gampang sekali penjelasannya. Konkretnya, harga tanah, rumah ataupun properti tidak pernah menurun. Logikanya, penduduk bumi semakin banyak, tetapi luas tanah tidak bertambah, jadi pasti demand nya akan terus meningkat dan menyebabkan harganya terus melambung. Jadi, kalau memang memungkinkan, berinvestasi dalam bentuk ini tidak-lah mungkin merugikan. Hanya saja, sifatnya yang tidak liquid, patut dipertimbangkan. Maksudnya, saat menjual properti, tidak mungkin kita hanya menjual terasnya saja, atau toiletnya saja .. haha.. pasti seluruhnya. Selain itu, menjual rumah / tanah tidak semudah menjual emas batang hehe... Tapi bagaimanapun juga, hal ini dapat menjadi investasi yang menjanjikan, menurut hemat saya.

4. Making The Good Relationship atau bahasa dalam bahasa Jermannya nggolek konco / Bolo sing apik
Saya meyakini bahwa banyak dari rejeki yang kita dapatkan tidak turun begitu saja dari langit hehe, sering kali juga melalui teman, kenalan, link, atau channel. Sama sekali bukan maksud saya membenarkan praktik nepotisme yang sering disaut -sautkan oleh orang - orang ngetop di tipi - tipi dalam konotasinya.. Logikanya, kalau menempuh cara yang normal dan benar, tidak mungkin seseorang mau mereferensikan kita terhadap pihak lain yang akan memberi kesempatan baik tanpa pertimbangan tertentu. Dengan demikian, alasan ini membuat kita terus termotivasi untuk dapat menjual diri dengan cara yang lebih intelek agar suatu saat nama baik kita akan disebut dengan fasih disaat ada yang akan memandatkan sesuatu, kan ? Yupp, sesederhana itu.. !

Jadi, mumpung masih muda, yukk kita sama - sama belajar dan berinvestasi hal - hal yang baik, karena no one knows what will happen in the future. Sebagai manusia yang tidak tahu rahasiaNya, kita hanya bisa bersiap - siap.  Semoga saja kita semua selalu diberi kemudahan atas usaha - usaha kita.

Pahlawan Devisaku "sendiri lagi"

Bukan pertama kalinya isu penganiayaan bahkan penjatuhan hukuman bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) diluar negeri terjadi tanpa upaya pembelaan dan perlindungan dari pemerintah Indonesia. Kompleksitas permasalahan ini semakin ruwet karena didukung oleh banyak faktor.
Ketanggapan dan ketepatan pemerintah dalam menyikapi permasalahan ini masih diam ditempat karena ketidakseriusan yang konsisten itu masih dibangga - banggakan didalam sebuah negara yang katanya lekat dengan semboyan diplomasi "thousands friends, zero enemy", fiuhhh..hhh...!
Wacana tentang penganiyaan TKI diluar negeri masih merupakan wacana yang panas - panas t*i ayam.Apakah salah bila saya mengatakan demikian bila wacana penganiyaan hanya akan dibahas disejumlah siaran TV dan dialog bahkan seminar disana - sini hanya ketika terjadi momentum penganiayaan? Lalu tidak ada langkah preventif bahkan ketegasan kebijakan dan diplomasi dalam konsep ber-jangka panjang demi hak warga negara yang memiliki hak untuk dilindungi disebuah negara berdaulat, Indonesia, yang katanya sudah merdeka diusia yang ke 60an.

Dilain pihak, pemerintah terkesan tidak memberi solusi keakar penyebab dari keterpaksaan beberapa bagian dari warga Indonesia untuk berTKI keluar negeri. Keterbatasan lapangan pekerjaan, misalnya, menjadi alasan utama mengapa banyak WNI mencari alternatif cara untuk mencari nafkah disana, yang notabene untuk mendapatkan pekerjaan apapun. Tidak hanya itu, rendahnya kualitas sumber daya manusia untuk diberdayakan di sektor industri membuat niat untuk berangkat ke negeri orang mencari nafkah menjadi semakin bulat.
Diluar dari semua uraian diatas, bukankah wajar bila pemerintah seharusnya sudah mempersiapkan rancangan ini secara lebih matang, bukan saja infrastruktur perkotaan untuk memfasilitasi kaum kapitalis yang melulu dipikirkan? Tidak kah pemerintah khilaf bahwa tiap - tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan? (pasal 27, ayat 2 UUD 1645).

Saya pribadi sudah sangat geram dengan kejadian demi kejadian atas perlakuan yang diterima TKI di luar negeri terlebih tidak ada usaha sama sekali dari pemerintah untuk memperjuangkan apalagi kematangan antisipasi dalam hal ini. Tetapi, geram saja tentu tidak cukup. Tidak cukup untuk membela nasib Ruyati, Sutinah, dan nasib puluhan TKI lain yang terancam hukum pancung. Bukan saatnya lagi permasalahan ini hanya akan dicari solusinya dalam dialog, diskusi, seminar, dll, saja, termasuk dalam tulisan di sejumlah Blog (seperti ini).