Secara umum saya suka dengan film ini karena dengan mudah pesan yang ingin disampaikan sang sutradara dapat saya terima dengan baik. Bahasa yang digunakan
dalam dialog juga bahasa sehari-sehari, bukan bahasa filosofis, yang dapat saya
nikmati sambil makan cemilan dan minum sambil nonton. Karena ada lho film yang dibuat dengan
dialog bahasa filsafat sehingga kalau kita melamun dua detikpun maka kita akan
ketinggalan alur ceritanya.
Meskipun demikian, film ini memiliki beberapa sisi yang asyik untuk direview. Sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut, teman-teman boleh berbeda pandangan dengan saya ya. No offense, please...
Meskipun demikian, sisi lain kekaguman saya kepada para pemeran di film ini yaitu setelah saya melacak background pemerannya ternyata beberapa dari mereka memang penghafal Al-Qur'an. Agak langka rasanya di industri perfilman Indonesia kita menemukan seorang aktor yang bukan saja 'menjual' fisik semata sebagai unsur utama estetika visual tetapi juga ditunjang dengan kualitas keislaman didunia nyatanya. Banyak kan kita menemukan aktris yang di filmnya berhijab tetapi didunia nyatanya tidak berhijab. Walaupun memang saat kita menikmati filmnya ya seharusnya nikmati saja alur cerita dan sajian filmnya, tapi kalau ada keunikan yang demikian maka saya sangat mengapresiasinya.
Bagi saya, film ini sebenarnya bercerita tentang gambaran hubungan/relationship sebagai fitrah manusia yang memiliki hubungan dengan Pencipta, keluarga : Kakak dan adik, Ibu dan anak, teman, sahabat dan masyarakat sosial secara lebih luas. Semua peran -peran ini kita lakoni selama hidup didunia dan terkadang diantara sesama pemain peran terjadi persinggungan termasuk ketika salah satu pemeran lain melakukan pergeseran skenario awal yang dikenali pemeran lain sebelumnya, salah satunya berhijrah/berpindah dengan konotasi berubah kearah yang yang baik dari sudut pandang religi. Kata 'Pergi' dalam judul film ini dapat juga diinterpretasikan kepada berpindah dari satu titik ke titik lain dan menjauh dari sudut pandang pemeran lain (Gita sang Adik, sang mama, dan teman-teman Mas Gagah).
Bukankah sangat wajar bila disaat hijrah maka peran-peran lain disekitar kita juga terpaksa melakukan adaptasi sebagai reaksi dari hijrah tersebut? Ada yang menerima dengan baik ada juga yang memerlukan waktu. Bagi Mas Gagah, perubahan yang terjadi juga tidak mudah karena harus menghadapi benturan, tekanan, dan rintangan. Sementara bagi peran yang bersinggungan dengan Mas Gagah seperti Gita, mama, dan teman-temannya juga tidak mudah karena merasa kehilangan sosok Gagah yang dulu dikenali mereka. Hal inspiratif dari cerita ini tentang hijrah yaitu satu scene yang mengandung dialog bahwa ketika kita belum bisa menerima kebaikan paling tidak hormatilah perbedaannya. Kira-kira seperti itu kalimatnya. Pesan ini menurut saya sarat akan makna untuk saling bertenggang rasa terhadap perubahan dan perbedaan sudut pandang.
Hal minor yang terdapat dalam scene yang sempat mengusik konsentrasi saya yaitu:
1. Munculnya domplengan iklan produk seperti War*ah di beberapa scenenya yang sengaja di zoom in oleh kamera. Tidak apa-apa sih, hanya gengges (mengganggu) aja. hehe...
2. Scene ketika terjadi perkelahian di dalam bis TransJakarta yang berlangsung cukup lama. Menurut saya itu agak aneh hehe,, karena didalam bis tidak ada kondektur, padahal kan biasanya ada kondekturnya. Ditambah lagi bis dalam keadaan terus berjalan sementara didalam bis terjadi kericuhan. Saya beritahu ya sodara-sodara, yang namanya bis TransJakarta itu, per sekian meter berhenti karena jarak antar halte satu dan lainnya berdekatan, lalu jangankan terjadi kericuhan, lha wong ngga ricuh saja bisnya bisa berhenti kok (mogok), maka agak janggal bagi saya saat melihat scene perkelahian yang cukup lama didalam bis tapi bisnya terus saja melaju. Anehh...sungguh....
3. Berdakwah di bis Kopaja juga menurut saya ngga sesuai deh meski memang Yudhi, si pendakwah itu tidak mau diberi uang sebagai imbalannya tapi tetap saja menurut saya kurang tepat konteksnya kalau ceramahnya di dalam bis Kopaja. Kalau nanti ditiru oleh yang lainnya untuk berceramah didalam bis Kopaja kan bisa berabe. Bisa-bisa citra islam menjadi buruk karena dianggap tidak bertenggang rasa di tempat umum dimana ada umat beragama lain juga disitu. Menurut saya masih banyak cara-cara syiar Islam yang tidak membuat pemeluk agama lain merasa terganggu.
4. Secara umum cerita dalam film ini antar fase konfliknya tidak terlalu berkarakter juga menarik dari fase konflik naik - konflik - lalu konflik reda,malah cenderung mirip cerita sinetron. Saran saya bagi sang sutradara kalau misalnya akan membuat film "Ketika Mas Gagah Pergi 2" hendaknya memperkuat alur naskahnya cerita supaya filmnya lebih berkarakter. Meskipun demikian akting pemeran-pemeran sentralnya tetap saya acungi jempol karena terlihat menjiwai perannya dengan baik.
Mudah-mudahan cerita KMGP 2 nanti tidak mengecewakan rasa penasaran penonton yang sudah di PHP-in di KMGP session 1. Saya turut mendoakan para crew dan pemainnya semoga makin sukses ya. Amiinn...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar